Berawal dari sekumpulan anak-anak yang ingin menimba ilmu membaca Al-Quran, kemudian salah satu orang yang ingin belajar kitab bersama KH. Sujai Bin Asfari. Kala itu kitab pertama yang diajarkan mengenai Tafsir Jalaalain pada waktu setelah sholat subuh. Tempatnya hanyalah gubug kecil yang dimiliki oleh KH. Sujai bin Asfari.
Pada tahun 2005 M terdapat 1 sampai 2 orang yang mengkaji, lambat laun semakin banyak orang yang ikut dalam kajian tersebut, dan semakin banyak yang tertarik untuk ikut mengkaji kitab tafsir tersebut. Karena semakin banyaknya yang ikut pengajian tersebut maka pada tahun 2007 M salah seorang santri berinisiatif dan mengajak yang lain untuk membuat gubuk lagi yang terbuat dari bambu dilapisi bilik yang tertutup genteng dipimpin oleh Bpk. Amin.

Maka semakin bertambah kitab kajian seperti hadist yang diajarkan oleh Ust. Asmuni As’ad beliau adalah adik sepupu dari KH. Sujai bin Asfari. Dengan penambahan kajian ilmu hadist maka semakin banyak yang mengikuti kajian dari majelis ini. Walaupun pengajian berkembang begitu pesat namun belajar untuk anak- anak tetap dilaksanakan setiap setelah maghrib.

Maka pada tahun 2007 M inilah majelis ini dinamakan Majelis Taklim Al-Mubarokah Pontang. Yang digagasi oleh KH. Sujai Bin Asfari selaku pendiri. Sesuai namanya beliau berharap majelis ini menjadi berkah bagi para penimba ilmu serta masyarakat sekitarnya. Setelah itu ditambahlah tenaga pengajar untuk membantu KH. Sujai Bin Asfari mengajarkan berbagai macam kalangan seperti bapak- bapak, ibu-ibu, para remaja, serta anak-anak. Tenaga pengajar tersebut diantaranya Ust. Abdul Aziz, Ust. Luqman, Ust. Ofik Taufiqurrohman, Ust. Jeni, serta Ust. Saefulloh.
Pada tahun 2014 M pendiri dari Majlis Taklim Al-Mubarokah meninggal dunia. Dan digantikan oleh Ust. Saefulloh untuk meneruskan jejak perjalanan Almarhum. Pada awal tahun 2015 M mulai kajian Ratib Al-Hadad yang digagaskan oleh Ust. Saefulloh diadakan setiap malam Jum’at untuk mengisi kekosongan yang sasaranya adalah remaja sekitar. Dengan pasang surutnya keadaan namun Ust. Saefulloh tetap menjalankan kegiatan ini dalam niat Lillahi Ta’ala.
Pada tahun 2016 M santri mulai ada yang mukim di Majlis Taklim Al-Mubarokah Pontang, dan selama itu terus bertambahnya santri yang mukim. Mulai tahun 2018 M sudah ada izin operasional, yang diawali berupa tawaran dari FSPP (Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren) tingkat kecamatan yang dipimpin oleh Ust. H. Muslim.


Oleh karena itu bertambahan nama dari Majlis Taklim Al-Mubarokah menjadi Maroh Labid Al- Mubarokah Pontang. Nama tersebut diambil dari karya Syekh Nawawi Al-Bantani yang berarti kata Maroh adalah tempat berteduh sedangkan Labid berarti burung yang berkumpul maka dari itu Maroh Labid diartikan tempat berteduhnya bagi orang-orang yang senang berkumpul.


Berkembangnya Majelis ini tidak lain dari do’a para pendahulu, santri dan tak luput dari masyarakat sekitar. Serta sampai kini Majelis ini masih tetap untuk mengembangkan baik sarana serta keilmuan sehingga dapat menjadi tempat yang lebih baik lagi serta megharapkan keberkahan dan ridho Allah SWT.















